Thursday, June 13, 2013

Model Pembelajaran Tematik


Pembelajaran terpadu menurut Semiawan (Joni, Tt), berasal dari integrated learning, sering diterjemahkan dengan berbagai cara yang pengertiannya berbeda-beda, yaitu integrated day, integrated curricula dan integrated learning itu sendiri.  Integrated day, hari terpadu, dilukiskan oleh Dresden (Cohen & Manion, 1992) sebagai suatu konsep organisasional aktivitas peserta didik, yang dipilah-pilah dalam berbagai kegiatan belajar yang sifatnya individual.  Dalam hari terpadu ini terjadi dominasi pilihan kegiatan belajar oleh masing-masing anak terjadi secara bersamaan di kelas.  Suasana belajar sangat bebas sehingga terlihat masing-masing peserta didik dengan aktivitasnya sendiri-sendiri, yaitu ada yang membaca, menggambar, membentuk kelompok mengerjakan sesuatu, dan lain-lain.

Wednesday, June 12, 2013

Karakteristik Pembelajaran Tematik

A.    Karakteristik Anak Usia Dini
Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orang tualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalannya. Dalam lima tahun pertama yang disebut dengan The Golden Years, seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Di masa masa inilah, anak seyogyanya mulai diarahkan Sebagai orang tua yang proaktif, orang tua hendaknya memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan anak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal.

Landasan Pembelajaran Tematik


A.    Landasan Tematik
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada  pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.  Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan atau kekhasannya, potensi, dan motivasi yang dimilikinya.
free counters