Jumat, 03 Agustus 2012

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Dalam Pembelajaran Matematika

Matematika, menurut russefendi (1991), adalah bahasa symbol; ilmu deduktif; ilmu tentang keteraturan, dan struktur yang telah terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak dapat di definisikan, ke unsur yang di definisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Sedangkan hakikat matematikamenurut soejadi (2000), yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.

Siswa sekolah dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase operasional kongkrit. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berfikir untk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat kongkrit.

Dari usia perkembangan kognitif, siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera. Dalam pembelajaran matematika yang abstrak, siswa memerlukan alat bantu berupa media, dan alat peraga yang dapat memperjelas apa yang akan disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa. Proses pembelajaran pada fase konkret dapat melalui tahapan konkret, semi konkret, semi abstrak, dan selanjutnya abstrak.


Dalam matematika setiap konsep yang abstrak yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan, agar mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa, sehingga akan melekat dalam pola piker dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hafalan atau mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa. Pepatah Cina mengatakan, “saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya mengerti”.


Bacaan yang Mungkin Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar