Kamis, 13 Juni 2013

Konsep Dasar Pemetaan Tema dalam Pembelajaran Tematik

A.    Pengertian Pemetaan Tema dalam Pembelajaran Tematik
Pemetaan tema adalah suatu kegiatan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasi-kan materi pengajaran dan pengalaman belajar melalui keterpaduan tema. Tema menjadi pengikat keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Pada model pembelajaran ini guru menyajikan pembelajaran dengan tema dan sub tema yang disepakati dan dihubungkan dengan antar mata pelajaran sehingga siswa-siswi memperoleh pandangan dan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari mata pelajaran yang berbeda-beda (Sukayati, 1998).
     Sebagaimana Sukayati, Subroto (1998) menegaskan bahwa dalam pembelajaran tematik yang juga disebut pembelajaran terpadu model terkait, pelajaran dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari kompetensi dasar dan indikator dari beberapa mata pelajaran yang dijabarkan dalam konsep, keterampilan atau kemampuan yang ingin dikembangkan dan didasarkan atas situasi dan kondisi kelas, guru, madrasah dan lingkungan. Dengan demikian, menurut Sukayati (2004) siswa-siswi mempunyai motivasi tinggi karena pelajaran melalui tema ini akan memudahkan mereka dalam melihat bagaimana berbagai kegiatan dan gagasan dapat saling terkait tanpa harus melihat batas-batas pemisah beberapa mata pelajaran.

B.     Cara Menentukan Tema
Pemetaan tema dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun demikian, tidak ada cara yang terbaik untuk menentukan tema tetapi tergantung dari situasi dan kondisi karena pada dasarnya pembelajaran tematik bergantung pada situasi dan kondisi kelas, sekolah, guru, atau lingkungan sehingga prosedur penentuan tema disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
Menurut Tim Puskur dari Departemen Pendidikan Nasional (2006) menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, guru mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam tiap-tiap mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai. Cara kedua, guru menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerja sama dengan siswa-siswi sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.
Perbedaan antara cara pertama dengan cara yang kedua terletak pada penentuan tema. Cara yang pertama penentuan tema dilakukan setelah guru melakukan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar karena dalam indikator. Tema ditentukan setelah melihat keterhubungan antara kompetensi satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Berikut ini adalah contoh keterhubungan kompetensi dasar dan indikator dengan tema.
Adapun kegiatan yang dilakukan adalah:

1.      Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator
Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator.
Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
b.      Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
c.       Dirumuskan dalam diamati.

Contoh Keterhubungan Kompetensi Dasar dan Indikator
dengan Tema 8.1

2.      Menentukan Tema
a.       
a. Cara menentuan tema
Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni: pertama. Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
Kedua. Menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Tema untuk pembelajaran tematik dapat berasal dari beberapa sumber. di antaranya adalah :
1)      Isu-isu
2)      Masalah-masalah
3)      Event-event khusus
4)      Minat siswa
5)      Literatur
Tema-tema dalam pembelajaran tematik, sebagaimana dijelaskan Subroto dan Herawati (1978) juga dapat dikembangkan berdasarkan kriteria berikut :
  1. Minat siswa-siswi yang pada umumnya dapat menarik untuk dijadikan kriteria penentuan tema, seperti hari libur. Kegiatan hari libur sangat menyenangkan bagi siswa-siswi. Banyak yang dapat dilakukan oleh siswa-siswi, seperti memain bola, ke sawah, dan sebagainya.
  2. Minat guru yang berhubungan dengan sekolah, siswa-siswi atau proses pembelajaran yang disesuaikan dengan pemahaman siswa-siswi. Misalnya, guru dapat memilih tema koperasi sekolah. Guru dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang dijual di koperasi sekolah? Dan apa keuntungan koperasi sekolah?
  3. Kebutuhan siswa-siswi, seperti perkelahian antara siswa-siswi yang perlu pemecahan dan jalan keluar. Siswa-siswi dapat dilibatkan dalam mengambil pemecahan perkelahian antara siswa-siswi. Oleh karena itu, perkelahian dapat dijadikan sebagai tema.
Selain kriteria tersebut, menurut Subroto dan Herawati (1978) terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam penentuan tema, yaitu :
a.       Penentuan tema merupakan hasil ramuan dari berbagai disiplin ilmu.
b.      Tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai sasaran materi pelajaran dan prosedur penyampaian.
c.       Tema sesuai dengan karakteristik belajar siswa-siswi sehingga perkembangan anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
d.      Tema harus bersifat cukup problematik sehingga kemungkinan luas untuk melaksanakan kegiatan belajar yang lebih efektif dibanding dengan proses belajar mengajar yang konvensional.
Penentuan tema dapat ditempuh dengan prosedur yang dikemukakan oleh Subroto dan Herawati (1978) sebagai berikut :
1)      Menumbuhkan minat siswa-siswi pada suatu tema.
2)      Mempertimbangkan sumber-sumber yang diperlukan. Bila perlu guru mempersiapkan rencana antisipasi, misalnya karya wisata.
3)      Mengidentifikasi apa yang telah diketahui oleh siswa-siswi dan apa saja yang ingin diketahui.
4)      Menentukan fokus tema tertentu, pemahaman, nilai-nilai, pengetahuan, atau sikap.
5)      Menentukan cara-cara untuk melakukan eksplorasi pertanyaan-pertanyaan, dan mempertimbangkan ketrampilan-ketrampilan yang harus dimiliki siswa-siswi.
6)      Mengumpulkan sumber-sumber belajar.
7)      Mengacu pada pertanyaan-pertanyaan fokus.
8)      Penilaian yang dilakukan berulang-ulang dan mengkaji hasilnya pada kegiatan akhir.
Ada tiga model penentuan tema, yaitu : pertama, tema ditentukan oleh guru dan dikembangkan dalam sub-sub tema. Kedua, tema ditentukan bersama-sama antara guru dan siswa-siswi. Keempat, tema ditentukan oleh siswa-siswi.

3.      Prinsip Pengembangan dan Pemilihan Tema
Menurut Tim Pusat Kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip, yaitu:
Pertama. Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa-siswi. Tema yang dipilih sebaiknya tema-tema yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan dialami anak (Sukandi dkk., 2003). Mengangkat realita sehari-hari dapat menarik minat siswa-siswi dan meningkatkan keterlibatan siswa-siswi dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran tematik, anak belajar tentang dunia nyata sehingga pencapaian kompetensi dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pembelajaran lebih bermakna karena mudah dipahami. Kebermaknaan pembelajaran sangat penting karena dapat memberikan pencerahan (insight) pada anak, juga membuat anak termotivasi dalam belajar sehingga mereka memiliki minat tinggi dalam pembelajaran (Samani, 2007).
Kedua. Dari yang termudah menuju yang sulit. Dari yang sederhana menuju yang kompleks. Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi (Tim Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional, 2006).
Keempat. Dari yang konkrit menuju ke yang abstrak. Anak tidak belajar hal yang abstrak, tetapi belajar dari fenomena kehidupan dan secara bertahap belajar memecahkan problem kehidupan. Menurut Sukandi (2003), dunia anak adalah dunia nyata. Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berpikir nyata. Anak-anak biasanya melihat peristiwa atau objek yang didalamnya memuat sejumlah konsep/materi beberapa mata pelajaran. Misalnya, dalam berbelanja di pasar, anak-anak dihadapkan pada hitung-menghitung (Matematika), aneka ragam makanan sehat (IPA), dialog tawar menawar (Bahasa Indonesia), penggunaan uang (IPS), tata cara dan etika jual beli (Agama), dan mata pelajaran lainnya. Anak belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dari hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa-siswi dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Kelima. Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa-siswi dan membangun pemahaman konsep karena adanya sinergi pemahaman antar konsep yang dikemas dalam tema.
Ketujuh. Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa-siswi, termasuk minat dan kebutuhan. Dalam pembelajaran tematik, berbagai mata pelajaran dihubungkan dengan tema yang cocok dengan kehidupan sehari-hari anak, bahkan diupayakan yang merupakan kesenangan anak pada umumnya sehingga siswa-siswi tertarik untuk mengikuti pelajaran. Ketertarikan siswa-siswi pada "apa" yang dipelajari merupakan "pintu" pertama belajar dan menjadi "kunci" keberhasilan belajar. Sebaliknya, jika siswa-siswi tidak tertarik belajar bisa menjadi faktor kegagalan dalam belajar bagi siswa-siswi (Samani, 2007).
Tema yang dipilih, menurut Sukandi (2003) dapat mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan, yaitu kognitif (seperti gagasan konseptual tentang lingkungan dan alam sekitar), keterampilan (seperti memanfaatkan informasi, menggunakan alat, dan mengamati gejala alam), dan sikap (jujur, teliti, tekun, menghargai perbedaan, dan sebagainya).   

4.      Identifikasi dan Analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator
Melakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis. Setelah tema-tema terbentuk, maka guru menyusun pemetaan Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar mata pelajaran sesuai dengan tema yang sudah ada. Jika ada Kompetensi Dasar yang sulit diintegrasikan ke dalam tema-tema yang telah ditentukan, maka Kompetensi Dasar tersebut diajarkan tersendiri.Contohnya adalah Kompetensi Dasar pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, karena untuk mengajarkannya membutuhkan guru yang memiliki latar belakang pendidikan khusus


Bacaan yang Mungkin Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar