Kamis, 05 Juli 2012

Pengembangan Instrumen Evaluasi Jenis Non-Test

Pada bab ini akan divahas tehnik non-tes. Intrumen non-tes dapat digunakan jika kita ingin mengetahui kualitas proses dan produk dari suatu pekerjaan serta hal-hal yang berkenaan dengan domain afektif, seperti sikap, minat, bakat, dan motivasi. Setiap dimensi  dan aspek yang di ukur memerlukan alat atau intrumen yang berbeda. Pada prinsipnya setiap melakukan evaluasi pembelajaran, kita dapat menggunakan tehnik tes dan non-tes, sebab hasil belajar atau aspek-aspek pembelajaran bersifat aneka ragam.

A. Observasi  ( observation )
Sebenarnya observasi merupakan suatu proses yang dialami, bahkan mungkin kita sering melakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam kelas, guru sering melihat, mengamati, dan melakukan interpretasi. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering mengamati orang lain. Pentingnya observasi dalam kegitan evaluasi pembelajaran mengharuskan guru untuk memahami lebih jauh tentang judgement, bertindak secara reflektif, dan menggunakan komentar orang lain sebagai informasi untuk membuat judgement yang lebih reliable. Hal yang harus dipahami oleh guru adalah bahwa tidak semua yang dilihat disebut observasi.

Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu. Alat yang digunakan dalm melkukan observasi disebut pedoman observasi.

Tujuan utama observasi adalah (1) untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena, baik yang berupa peristiwa maupun tindakan, baik dalam situasi yang sesungguhnya maupun dalam situasi buatan, (2) untuk mengukur perilaku kelas ( baik perilaku guru maupun perialu pesera didik), interaksi antara peserta didik dan guru, dan factor-faktor yang dapat diamati lainya, terutama kecakapan sosial.

Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik, seperti tingkah laku peserta didik pada waktu belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Observasi juga dapat digunakan untukmenilai penampilan guru dalam mengajar, suasana kelas, hubungan sosial sesama peserta didik, hubungan guru dengan peserta didik dan perilaku soaial lainya. Jika ingin menggunakan  observasi  sebagai alat evaluasi maka evaluator harus memahami terlebih dahulu tentang :
1.  Konsep dasar observasi, mulai dari pengertian, tujuan, fungsi, peranan, karakteristik, prinsip-prinsip samapai tujuan prosedur observasi.
2.  Perencanaan observasi, seperti meenentukan kegiatan apa yang akan diobservasi, siapa yang akan melakukan observasi, rencana sampling, menyusun pedoman observasi , melatih pihak-pihak yang akan melakukan observasi dalam menggunakan pedoman observasi.
3.  Prosedur observasi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengolahan dan penafsiran sampai dengan pelaporan hasil observasi.

Observasi mempunyai beberapa karakteristik, antara lain, (1) mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Hal ini dimaksukan agar pelaksanaan observasi tidak menyimpang dari permasalahn. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaanya evaluator harus menggunakan alat yang disebut dengan pedoman observasi.(2) bersifat ilmiah, yaitu dilakukan secara sistematis , logis, kritis, objektif dan rasional . (3) terdapat berbagai aspek yang akan di observasi, dan (4) praktis penggunaanya. enam ciri observasi yaitu:
1.  Observasi mempunyai arah yang khusus, bukan secara tidak teratur melihat sekeliling untuk mencari kesan-kesan umum.
2.  Observasi ilmiah tentang tingkah laku adalah sistematis, bukan secara sesuka hati dan iuntung-untungan mendekati situasi.
3.  Observasi bersifat kuantitatif, mencatatat jumlah peristiwa tentang tipe-tipe tingkah laku tertentu.
4.  Observasi mengadakan pencatatan dengan segera: pencatatan-pencatatan dilakukan secepat-cepatnya, bukan menyadarkan diri pada ingatan.
5.  Observasi meminta keahlian, dilakukan oleh sesorang yang memang telah terlatih untuk melakukanya.
6.  Hasil-hasil observasi dapat di cek dan dibuktikan untuk menjamin keadaan dan kesalahan.
Ciri-ciri observasi yang di kemukakan oleh good dkk. Mempunyai kelemahan antaralain:
1.  Dalam penyelidikan yang bersifat eksploitatif, justru yang bersifat kuantitatif kebanyakan dikesampingakan
2.  Dalam observasi partisipan tidak dapat dilakukan pencatatan dengan segera. Oleh sebab itu, observasi harus dilakukan dengan hati-hati dan terencana .

Dilihat dari kerangka kerjanya, observasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
1.  Observasi bersetruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer telah ditetapkan terlabuh dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi factor-faktor yang telah diatur kategorisnya.
2.  Observasi tak berstrutur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti.

Apabila dilihat dari teknis pelaksanaanya, observasi dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu:
1.  Observasi langsung, yaitu observasi yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diselidiki.
2.  Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui perantara, baik tehnik maupun alat tertentu.
3.  Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti.

Adapun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi adalah sebagai berikut:
1.  Merumuskan tujuan observasi
2.  Membuat lay-out atau kisi-kisi observasi
3.  Menyusun pedoman observasi
4.  Menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi, baik yang berkenaan dengan proses belajar peserta didik dan kepribadianya maupun penampilan guru dalam pembelajaran.
5.  Melakukan uji coba pedoman observasi untuk melihat kelemahan pedoman observasi
6.  Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba
7.  Melaksakan observasi pada saat kegiatan berlangsung
8.  Mengolag dan menafsirkan hasil observasi.

B. Wawancara( Interview)
Wawancara merupakan salah satu bentuk alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan Tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik. Pengertian wawancara lanngsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung antara pewawancara atau guru dengan oarag yang diwawncarai atau peserta didik tanpa melalui perantara, sedanglkan wawancara tidak langsungartinya pewawancara atau guru menanyakan sesuatu kepada peserta didik melalui perantaraan orang lain atau media. Jadi tidak menemui langsung kepada sumbernya.

Tujuan wawancara adalah sebagai berikut:
1.  Untuk memperoleh informasi secara langsung guna menjelaskan sutau hal atau situasi dan kondisi tertentu
2.  Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah
3.  Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orang tertentu

Pertanyaan wawancara dapat menggunakan bentuk seperti berikut:
1.  Bentuk pertanyaan bertruktur, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban agar sesuai dengan apa yang terkandung dalam pertanyaan tersebut.
2.  Bentuk pertanyaan tak berstruktur, yaitu paertanyaan yang bersifat terbuka, peserta didik secara bebas menjawab pertanyaan tersebut.
3.   Bentuk pertanyaan campuran, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban campuran, ada yang berstruktur ada pula yang bebas.

Untuk menyusun pedoman wawancara , dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1.  Meruskan tujuan wawancara
2.  Membuat kisi-kisi atau layout dan pedoman wawancara
3.  Menyusun pertanyaan sesuai dengan data yang diperlukan dan bentuk pertanyaan yang diinginkan. Untuk itu perlu diperhatikan kata-kata yang digunakan, cara bertanya, dan jangan membuat peserta didik bersikap defensive.
4.  Melaksanakan uji coba untuk melihat kelemahan-kelemahan  pertanyaan yang disusun, sehingga dapat diperbaiki lagi.
5.  Melaksanakan wawancara dalam situasi yang sebenarnya.

Dalam melaksanakan wawancara, ada beberapa hal yanag harus diperhatikan:
1.  Hubungan baik antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai perlu dipupuk dan dibina sehingga akan tampak hubungan yang akrab dan harmonis
2.  Dalam wawancara jangan terlalu kaku, tunjukan sikap yang bersahabat, bebas, ramah, terbuka, dan adaptasikan diri denganya.
3.  Perlakukan responden itu sebagai sesame manusia secara jujur
4.  Hilangkan prasangka-prasangka yang kurang baik sehingga pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan bersifat netral.
5.  Pertanyaan hendakanya jelas, tepat, dengan bahasa yang sederhana

C. Skala Sikap (attitude scale)
Sikap merupakan suatu kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesautu dengan cara, metode, tehnik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu. Sikap mengacu kepada perbuatan atau perilaku seseorang, tetapi tidak berarti semua perbuatan identik dengan sikap. Perbuatan seseorang mungkin saja bertentangan dengan sikapnya. Guru perlu mengetahui norma-norma yang ada pada peserta didik, bahkan sikap peserta didik terhadap dunia sekitarnya, terutama yterhadap mata pelajaran dan lingkungan sekolah. Jika terdapat sikap peserta didik yang negative, guru perlu mencari cara atau tehnik tertentu untuk menempatkan sikap negative itu menjadi sikap yang positif.

Adapun model-model skla sikap yang biasa digunanakan untuk menilai sikap peserta didik terhadap suatu objek, antara lain:
1.  Menggunakan bilangan untuk menunjukan tingkat-tingkat dari objek sikap yang di nilai , seperti 1,2,3,4 dan seterusnya
2.  Menggunakan frekukensi terjadonya atau timbulnya sikap itu, seperti: selalu, sering kali, kadang-kadang, pernah, dan tidak pernah
3.  Menggunakan istilah-istilah yang bersifat kualitatif, seperti bagus sekali, baik, sedang, dan kurang
4.  Menggunakan istilah-istilah yang menunjukan status seperti sangat rendah, di bawah rata-rata, di atas rata-tara, dan sangat tinggi
5.  Menggunakan kode bilangan atau huruf, seperti selalu (diberi kode 5), kadang-kadang (4), jarang (3), jarang sekali(2), dan tidak pernah(1).

D. Daftar Cek (check list)
Daftar cek adalah suatu daftar yang berisu subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Daftar cek dapat memungkinkan guru sebagai penilai mencatat tiap-tiap kejadian yang betapapun kecilnya, tetapi dianggap penting. Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam daftar cek, eeemudian tinggal memberikan tanda centang apad tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil penilaianya. Daftar cek banyakmanfaatnya, antara lain membantu guru untuk mengingat-ingat apa yang harus di amati, dan dapat memberikan informasi kepada atakeholder. Namun, penilaia tetap harus waspada kemungkianan perilaku penting yang belum tercangkup di dalam daftar cek, karena itu penilai jangan terlalu kaku dengan apa yang sudah tertulis pada daftar cek tersebut.

E. Skala Penilaian (ranting scale)
Dalam daftar cek, penilai hanya dapat mencatat ada tidaknya variable tingkah laku tertentu, sedangkan dalam skala penilaian fenomena-fenomena yang akan dinilai itu disusun dalam tingkatan-tingkatan yang telah di tentukan. Jadi, tidak hanya mengukur secara mutlak ada atau tidaknya variable tertentu, tetapi lebih jauh mengukur bagaimana itensitas gejala yang ingin di ukur. Pencatatan melalui daftar cek termasuk pencatatan yang kasar.

Namun demikian, skala penilaian juga mempunyai kelemahan, antara lain “ada kemungkinan halo effects, generosity effects, dan cary-over effects
1.  Kemungkinan terjadinya halo effects , yaitu kelemahan yang akan timbul jika dalam pencatatn observasi terpikat oleh kesan-kesab umum yang baik pada peserta didik sementara ia tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu.
2.  Generosity effects, yaitu kelemahan yang akan muncul bila ada keinginan untuk berbuat baik.
3.  Carry-over effects , yaitu kelemahan akan muncul jika guru tidak dapat memisahkan satu fenomena dengan fenomena yang lain.

F. Angket (questioner)
Angket termasuk alat untuk mengumpulkan dan mencatat data atau informasi, pendapat, dan paham dalam hubungan kausal. Angket mempunyai kasamaan dengan wawancara, kecuali dalam implementasinya. Angket dilaksanakan secara tertulis, sedangkan wawabcara dilaksanakan secara lisan.

Keuntungan angket antara lain:
1.  Responden dan menjawab dengan bebas tanpa di pengaruhi oleh hubunagn dengan peneliti atau penilai
2.  Informasi atau data terkumpul lebih mudah karena itemnya homogeny
3.  Dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari jumlah responden yang besar di jadilkan sampel.

Kelemahanya adalah:
1.  Ada kemungkinan angket di isis oleh orang lain
2.  Hanya diperuntukan bagi yang dapat melihat saja
3.  Responden hanya menjawab berdasarkan jawaban yang ada
       
Angket terdiri atas beberapa bentuk, yaitu:
1.  Bentuk angket berstruktur, yaitu angket yang menyediakan beberapa kemungkinan jawaban. Bentuk angket berstruktur terdiri atas tiga bentuk , yaitu:
a.  Bentuk jawaban tertutup, yaitu angket yang setiap pertanyaanya sudah tersedia berbagai alternative jawaban
b.  Bentuk jawaban tertutup, tetepi pada alternative jawaban terakir diberikan secar terbuka.
c.  Bentuk jawaban bergambar, yaitu angket yang memberikan jawaban dalam bentuk gambar
2.  Bentuk angket tak bertsruktur yaitu angket yang memberikan jawaban secar terbuka.

Untuk menyusun angket, dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1.  Menyusun kisi-kisi angket
Contoh:
no
masalah
Sub-masalah
indikator
Sumber data
Nomor angket







2.  Menyusun pertanyaan-pertanyaan dan bentuk jawaban yang diinginkan, bertsuktur atau tidak berstuktur. Setiap pertanyaan dan jawaban harus menggambarkan atau mencerminkan data yang diperlukan.
3.  Membuat pedoman atau petunjuk cara menjawab pertanyaa, sehingga memudahkan peserta didik untuk menjawabnya
4.  Jika angket sudah tersusun dengan baik, perlu dilaksanakan uji coba di lapangan sehingga dapat diketahui kelemahan-kelemahannya
5.  Angket yang sudah diujicobakan dan terdapat kelemahan perlu di revisi, baik dilihat dari bahasa, pertanyaanya maupun jawabanya
6.  Menggandakan angket sesuai dengan banyaknya jumlah peserta didik.

G. Studi Kasus (Case Study)
Studi kasus adalah studi yang mendalam dan komperhensif tentang peserta didik. Kelas atau sekolah yang memiliki kasus tertentu. Pengertian mendalam dan komperhensif adalah mengunngkap semua variable dan aspek-aspek yang melatarbelakaginya, yang diduga menjadi penyebab timbulnya perlaku atau kasus tersebut dalam kurun waktu tertentu. Untuk itu, guru harus menjawab tiga pertanyaan inti dalam studi kasus, yaitu:
1.  Mengapa kasus tersebut bisa terjadi?
2.  Apa yang dilakukan oleh sesoarng dalam kasus tersebut?
3.  Bagaimana pengaruh timgkah laku seseorang terhadap lingkungan?

Studi kasus sering digunakan dalam evaluasi, bimbingan, dan penelitian. Studi ini menyangkut intregasi dan penggunaan data yang komperhensif tentang pesrta didik sebagai suatu dasar untuk melakukan diagnosis dan mengartikan tingkah laku peserta didik tersbut.

H. Catatan Insidental (Anecdotal Reords)
Catatan insidendal adalah catatan-catatan singkat tentang peristiwa-peristiwa sepintas yang dialami peserta didik secara perseorangan. Catatn ini merupakan pelengkap dalam rangka penilaian guru terhadap peserta didiknya, terutama yang berkenaan dengan tingkah laku peserta didik. Catatan tersebut biasanya verbunyi:
a.  Tanggal 23 Februari 2008, Gita menangis sendiri di belkang sekolah, tanpa sebab
b.  Tanggal 05 Maret  2008, Gita mengabil mistar teman sebangkunya dan tidak mengembalikanya
c.  Tanggal 21 April 2008, Gita berkelahi dengan Galih, karena Gita berkata,”Galih anak pungut”.
d.  Tanggal 14 Mei 2008, Gita berkelahi dengan Gina, karena menuduh Gina mencuri uang Gita. Dan sebagainnya.

I.   Sosiommetri
Sosiometri adalah suatu prosedur untuk merangkum, menyusun dan sampai batas tertentu dapat mengkuatifikasi pendapat-endapat peserta didik tentang penerimaan teman sebayanya serta hubungan di antara mereka. Seperti diketahui, di sekolah banyak peserta didik kurang mampu menyesuaikan diri, mudah tersinggung. Hal ini dapat dilihat ketika mereka sedang istirahat, bermain, atau mengerjakan tugas kelompok. Fenomena tersebut menunjukan adanya kekurangmapuan peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkunganya. Kondisi seperti ini perlu di ketahui dan di pelajari oleh guru dan dicarikan upaya untuk memperbaikinya, karena dapat menggaggu proses belajarnya.

Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan sosial peserta didik adalah sosiometri. Terdapat beberapa langkah dalam menggunakan sosiometri, yaitu:
1.  Memberikan petunjuk atau partanyaan-prtanyaan,
2.  Mengupulkan jawaban yang sejujurnya dari semua peserta didik
3.  Jawaban-jawaban tersebut di masukan ke dalam table
4.  Pilihan-pilihan yang setar dalam table digambarkan pada sebuah sosigram

J.  Inventori Kepribadian
Inventori Kepribadian hampir serupa dengan tes kepribadian. Bedanya, pada inventori, jawaban peserta didik adalah benar selama dia menyatakan yang sesungguhnya, walaupun demikian di pergunakan pula skala-skala tertentu untuk kuantifikasi jawaban sehingga dapat di bandingkan dengan kelompoknya. Aspek-aspek kepribadian yang biasanya dapat diketahui melalui inventori ini, seperti sikap, minat, sifat-sifat kepemimpinan, dan dominasi.

Dalam pedoman penilaian depdiknas (2006) di kemukakan bahwa keterkaitan antara ranah kognitif, afekti, dan psikomor dalam penilaian dapat divisualkan.

K. Tehknik Pemberian Penghargaan Kepada Peserta Didik
Tehnik pemberian penghargaan ini di anggap penting karena banyak respons dan tindakan positif dari peserta didik yang timbul sebagai akibat tindakan belajar , tetapi kurang mendapat perhatian dan tanggapan yang serius dari guru. Seharusnya, guru memberikan penghargaan kepada setiap tindakan positif dari pesrta didik dalam berbagai bentuk, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat meningkatkab motivasi belajar.

Dalam melakukan penilaian, kebanyakan guru-guru di ssekolah hanya memberikan nilai pada akir pembelajaran. Guru masih belum terbiasa memberikan penghargaan terhadap tingkah laku peserta didik yang baik. Sebaliknya guru sering membrikan komentar negative atau perlakuan yang kasar terhadap tingkah laku peserta didik yang salah. Hal ini akan berdampak negative bagi perkembangan kebribadian peserta didik itu sendiri.

Dalam melakukan penilaian, kebanyakan guru-guru di ssekolah hanya memberikan nilai pada akir pembelajaran. Guru masih belum terbiasa memberikan penghargaan terhadap tingkah laku peserta didik yang baik. Sebaliknya guru sering membrikan komentar negative atau perlakuan yang kasar terhadap tingkah laku peserta didik yang salah. Hal ini akan berdampak negative bagi perkembangan kebribadian peserta didik itu sendiri.

Dalam pemberian penghargaan ada dua tehnik yang dapat di gunakan guru, yaitu “ verbal dan non verbal”( depdiknas 2003)
1.  Tehnik verbal yaitu pemberian penghargaan yang berupa oujian, dukungan, dorongan, atau pengakuan, seperti kata bagus, benar, betul, tepat , baik, dan sebagainya.
2.  Tehnik non verbal yaitu pemberian penghargaan melalui:
a.  Mimic dan gerakan tubuh, seperti senyuman
b.  Cara mendekati, yaitu guru mendekati peserta didik untuk menunjukan perhatian atau kesenanganny terhadap pekerjaan
c.  Sentuhan, seperti menepu-nepuk bahu, mejabat ttangan
d.  Kegiatan yang menyengkan, yaitu member kesempatan kepada peserta didik untuk melkukan suatu kegiatan yang disenanginya sebagai penghargaan atas presatsi belajrnya yang baik.
e.  Symbol atau benda, seperti komentar tertulis secara positif pada buku peserta didik
f.   Penghargaan tak penuh, yaitu penghargaan yang diberikan kepada peserta didik yang memberikan jawan kurang sempurna atau sebagian yang benar. Dalam hal  ini guru sebaiknya mengtakan “ya, jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu di sempurnakan lagi”.



Bacaan yang Mungkin Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar