Kamis, 24 Mei 2012

Adzan, Iqamah, Sholat Fardhu, Sholat Berjama’ah, dan Sholat Untuk Orang Sakit

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Dengan rahmat, hidayah serta inayah dari Allah, pada kesempatan yang baik ini kami dapa menyusun makalah yang berjudul “Azan, Iqamah, Sholat Fardhu, Sholat Berjama’ah, dan Sholat untuk orang sakit”. Dimana di dalamnya kami uaraikan mulai dari hal- hal yang yang harus di kerjakan sebelum mengerjakan sholat sampai kepada amalan – amalan sesudahnya. Di dalamnya kami juga memberikan contoh-contoh doa yang harus di baca sesudah adzan dan sebagainya.

            Makalah ini kami susun dengan bahasa yang sangat mudah di fahami oleh seluruh lapisan masyarakat, baik kaum intelek maupun kaum awam. Juga makalah ini sangat berguna dan sekaligus merupakan pedoman bagi seseorang yang ingin mempelajari adzan, iqamah, dan sholat.
            Semoga usaha penilis yang sangat sederhana ini mendapat ridlo dari allah, sehingga kehadiarannya makalah di di temgah-tengah masyarakat Islam mendapat sambutan hangat serta di amalkan isinya.
            Semoga Allah memasukkan usaha penulis ini menjadi amal jariyah yang dapat di petik kelak di hari akhir dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin ya robbal ‘alamin.

B. Rumusan Masalah
1.    Bagaimana cara mengerjakan adzan dan iqamah?
2.    Apakah yang di maksud dengan sholat fardhu?
3.    Bagaimana tatacara melaksanakan sholat berjama’ah?
4.    Bagaimana cara melaksanakan sholat pada orang yang sedang sakit?

C. Tujuan
1.    Pembaca dapat mengerti dan memahami terkait dengan cara mengerjakan adzan dan iqamah.
2.    Pembaca dapat mengerti dan memahami terkait dengan tatacara sholat fardhu dan hal-hal yang terkait dengan sholat fardhu.
3.    Pembaca dapat mengerti dan memahami terkait dengan tatacara melaksanakan sholat berjama’ah.
4.    Pembaca dapat mengerti dan memahami terkait cara melaksanakan sholat pada orang yang sedang sakit.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Adzan dan Iqamah
            Perkataan adzan berasal dari bahasa arab “adhanun” yang berarti pemberitahuan. Sedangkan pengertian adzan menurut istilah adalah seruan pemberitahuan tentang datangnya waktu shalat fardhu, dengaan mempergunakan lafadh yang telah di tentukan oleh syara’[1].
            Iqamah menurut bahasa arab ”iqomatan” yang mempunyai arti menunaikan, mendirikan dan menegakkan. Sedangang pengertian iqomah menurut istilah adalah suatu tanda bahwa shalat akan di mulai, dengan mempergunakan lafadh yang telah di tentukan oleh syara’[2].
            Adzan dan Iqamah hukumnya sunnah mu,akad bagi sholat fardhu, baik di kerjakan berjamaah maupun sendirian (munfarid). Di sunnahkan dengan suara yang keras kecuali di masjid yang sudah di lakukan (sedang di lakukan) sholat berjama’ah. Dikerjakan dengan berdiri dan menghadap kiblat[3].

1. Lafadz-lafadz Adzan
            Lafadz-lafadz adzan ini tidak dapat di kurangi atau di tambah karena lafadz tersebut sudah di tetapkan oleh syara’[4]. Adapun lafadz- lafadz adzan yang di gunakan untuk memanggil orang-orang mengerjakan sholat adalah sebagai berikut :
  1. الله اكبر الله اكبر
  2. 2  اشهدان لااله الاّاللهX
  3. 2 اشهدانّ محمّدارسول اللهX
  4. 2 حى على الصلاةX
  5. 2 حى على الفلاحX
  6. الله اكبر الله اكبر
  7. لااله الاّالله
Artinya:
1.    Allah Maha basar 2X
2.    Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah 2x
3.    Aku bersaksi bahwa Nabi Muhamad utusan Allah 2x
4.    Marilah bersama-sama mendirikan sholat 2X
5.    Marilah kita semua menuju kepada kebahagiaan2X
6.    Allah Maha besar 2x
7.    Tiada Tuhan selain Allah
Lafadz-lafadz di atas di gunakan pada waktu dhuhur, Ashar, Magrib, dan Isya’. Adapun waktu shubuh setelah haya’alal falah di tambahi dengan kalimat:
 اصّلاة خىرمن النّوم (sholat itu lebih baik dari pada tidur)[5].

2. Jawaban ketika Mendengar Adzan
Seseorang yang mendengar adzan di sunatkan menjawabnya sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh muadzin, kecuali pada lafadz hayya ‘ala shalaah dan hayya ‘alal falaah, maka jawabanya adalah:
لاحول ولا قوّة الابالله (Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah).
Dan pada adzan shubuh, ketika muadzin mengumandangkan lafadz ash sholatu khoiru minan naum, maka jawabanya adalah:
صدقت وبررت وانا على دلك من الشاهدين (Benar dan baguslah ucapanmu itu dan akupun atas yang demikian termasuk orang-orang yang menyaksikan)[6].

3. Do’a sesudah Adzan
Sesudah adzan di kumandangkan maka di sunatkan bagi muadzin maupun yang mendengarkanya, membaca doa di bawah ini:
ا للهم رب هده الدعوة التامة والصلاة القا ئمة ات سيدنا محمد ن الوسيلة والفضيلة والشرف والدرخة العا لية الرفيعة وابعثه االمقام المحمود ن الدى وعد ته انك لا تخلف الميعاد
Artinya: Ya allah yang memiliki panggilan ini , yang sempurna dan memiliki shalat yang di dirikan. Berikan junjungan kami Nabi Muhammad, wasilah dan keutamaan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah dia ke tempat yang terpuji sebagai mana engkau telah janjikan. Sesungguhnya engkau ya allah dzat yang tidak akan mengubah janji[7].

4. Syarat- syarat Adzan
1.    Sudah masuk waktunya sholat.
2.    Tertib (Urut).
3.    Tidak di pisah-pisahkan waktunya antara bacaan-bacaan adzan itu dengan jarak waktu yang lama.
4.    Dengan menggunakan bahasa arab (tidak boleh dengan terjemahanya).
5.    Dapat di dengar oleh sebagian jama’ah atau dapat di dengar sendiri jikalau munfarid (sendirian)[8].

5. Lafadz-lafadz Iqamah
Lafadz iqamah itu sama dengan adzan, hanya saja kalau adzan di ucapkan masing-masing dua kali tetapi kalau iqamah cukup di ucapkan sekali saja. Dan di antara kalimat ke 5 dan ke 6 di tambah kalimat:
قدقامت الصلاة 2x (shalat telah di mulai)
Iqamah sunah di ucapkan agak cepat dan di lakukan dengan suara agak rendah dari pada adzan[9].

6. Jawaban bagi Orang yang mendengar Iqamah
Bagi yang mendengar iqamah kalimat demi kalimat yang terdengar di jawab sama seperti yang di ucapkan oleh muadzin, kecuali pada kalimat qad qamati shalat, maka di jawab dengan lafadz sebagai berikut:
 اقامهاالله وادامهاوجعلنى من صا لحىى اهلها(Semoga Allah mendirikan sholat itu dengan kekalnya, dan semoga allah menjadikan aku ini dari golongan orang yang sebaik-baiknya ahli sholat ).

7. Do,a setelah Iqamah
ا للهم رب هده الدعوة التامة والصلاة القا ئمة صل وسلم على سيدنامحمد واته سؤله يوم القيا مة
Artinya: Ya Allah Ya Tuhanku yang memiliki panggilan yang sangat sempurna, dan sholat yang akan didirikan, curahkanlah rahmat dan salam atas junjungan Nabi Muhamad s.a.w. Dan kabulkanlah segala permohonanya pada hari kiamat[10].

8. Syarat- syarat Muadzin
  1. Bergama islam
  2. Tamyiz dan Laki-laki
Makruh bagi orang  yang berhadas kecil atau besar. Dan di sunahkan menyerukan adzan dengan suara nyaring dan merdu[11].

B. Sholat Fardhu
Sholat menurut bahasa adalah berdoa. Sedangkan sholat menurut istilah adalah beberapa ucapan dan perbuatan yang di awali dari takbir dan di akhiri dengan ucapan salam serta di kerjakan dengan memenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan[12].
Sholat fardhu adalah sholat yang wajib dan harus di kerjakan oleh setiap orang mu’min pada waktu yang telah di tentukan.Adapun sholat yang di fardhukan (di wajibkan) itu ada lima yaitu: Isyak, subuh, dhuhur, asar, dan magrib.Mula-mula turunya perintah wajib shalat itu ialah pada malam isra’, setahun sebelum tahun hijriah[13].

1.Waktu dan jumlah raka’at Sholat Fardhu
a.    Dzuhur 4 rakaat
Awal waktunya setelah condong nya matahari dari pertengahan langit, akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu  telah sama panjangnya dengan sesuatu tersebut.
b.    Ashar 4 rakaat
Mulai bayangan suatu benda  sama panjang dengan bendanya sampai terbenamya matahari.
c.    Magrib 3 rakaat
Mulai terbenamnya matahari sampai hilangnya mega merah.
d.   Isyak 4 rakaat
Waktunya mulai dari hilangnya mega merah sampai terbitnya fajar shodik.
e.    Shubuh 2 rakaat
Mulai terbitnya fajar shodik hingga terbitnya matahari[14].

2. Niat Sholat Fardhu
  1. Niat sholat dhuhur,ashar,dan isyak
اصلى فرض (الضهر/العصر/العشاء) اربع ركعات مستقبل القبلة اداء(مأموما/اماما) لله تعالى
“Aku menyengaja sholat fardhu (dhuhur/ashar/isyak) empat raka’at menghadap kiblat (makmuman/imaman) karena allah”
  1. Niat sholat magrib
اصلى فرض المغرب ثلاث ركعات مستقبل القبلة اداء(مأموما/اماما) لله تعالى
 “Aku menyengaja sholat fardhu magrib tiga raka’at menghadap kiblat (makmuman/imaman) karena allah”
  1. Niat sholat subuh
اصلى فرض الصبح ركعتين مستقبل القبلة اداء(مأموما/اماما) لله تعالى
“Aku menyengaja sholat fardhu subuh dua raka’at menghadap kiblat (makmuman/imaman) karena allah”[15].

3. Hal-hal Yang membatalkan Sholat
            Sholat itu batal (Tidak sah) apabila salah satu syarat rukunya tidak di laksanakan atau di tinggalkan dengan sengaja. Dan sholat itu batal dengan hal-hal yang seperti tersebut di bawah ini:
1.        Berhadas.
2.        Terkena najis.
3.        Berkata- kata dengan sengaja walaupun dengan satu huruf yang memberikan pengertian.
4.        Terbuka auratnya.
5.        Mengubah niat, misalnya ingin memutuskan sholat.
6.        Makan atau minum meskipun sedikit.
7.        Bergerak berturut-turut tiga kali.
8.        Membelakangi kiblat.
9.        Menambah tukun yang berupa perbuatan, seperti rukuk dan sujud.
10.    Tertawa terbhak-bahak.
11.    Mendahului imamnya dua rukun.
12.    Murtad (keluar dari islam)[16].

C. Sholat Berjama’ah
Sholat berjama’ah adalah sholat yang di kerjakan secara bersama-sama, di katakan sholat berjama’ah apabila lebih dari satu orang, yang satu  berdiri di depan sebagai imam dan yang lain berjajar di belakang  di belakangnya sebagai makmum[17]. Sholat berjama’ah hukumnya sunat mu’akad, yakni sangat di tekankanuntuk mengerjakanya, sholat berjama,ah di tetapkan di madinah. Jama’ah yang paling sedikit terdiri dara imam dam seorang makmum[18].

1. Sholat yang di Sunnahkan Berjama’ah
a.    Sholat fardhu lima waktu
b.    Sholat jenazah
c.    Sholat istisqa (mohon hujan)
d.   Sholat tarawih
e.    Sholat Hari Raya
f.     Sholat gerhana (matahari dan bulan)[19]

2. Syarat Sholat Berjama’ah
a.    Berniat mengikuti imam.
b.    Makmum harus berada di belakang imam.
c.    Tidak ada dinding penghalang antara imam dan makmum.
d.   Sholatnya makmum harus sama dengan sholatnya imam.
e.    Mengetahui apa yang di kerjakan imam.
f.     Jarak antara imam dan makmum di baris yang terakhir tidak lebih dari 300 hasta.
g.    Tidak boleh mendahului imam[20].

3. Yang dapat dijadikan Imam
1.    Baligh
2.    Laki-laki bermakmum kepada laki-laki.
3.    Wanita bermakmum kepada laki-laki.
4.    Wanita bermakmum kepada wanita.
5.    Wanita bermakmum kepada banci.
6.    Banci bermakmum kepada laki-laki[21].

4. Yang Tidak Boleh Dijadikan Imam
1.    Orang yang fasih membaca Al Quran bermakmum kepada orang yang tidak fasih membaca Al Quran.
2.    Banci bermakmum kepada banci.
3.    Laki-laki bermakmum kepada banci.
4.    Banci bermakmum kepada wanita.
5.    Laki-laki bermakmum kepada wanita[22].



5. Syarat Untuk Menjadi Makmum Sholat Berjama'ah
            Seseorang yang ingin menjadi makmum hendaklah memenuhi persyaratan berikut agar sholat jama’ahnya menjadi sah, antara lain yaitu:
1. Niat untuk mengikuti imam dan mengikuti gerakan imam.
2. Berada satu tempat dengan imam.
3. Laki-laki dewasa tidak syah jika menjadi makmum imam perempuan.
4. Jika imam batal, maka seorang makmum maju ke depan menggantikan imam.
5. Jika imam lupa jumlah roka'at atau salah gerakan sholat, makmum mengingatkan dengan membaca Subhanallah dengan suara yang dapat didengar imam. Untuk ma'mum perempuan dengan cara bertepuk tangan.
6. Makmum dapat melihat atau mendengar imam.
7. Makmum berada di belakang imam.
8. Mengerjakan ibadah sholat yang sama dengan imam.
9. Jika datang terlambat, maka makmum akan menjadi masbuk yang boleh mengikuti imam sama sepertimakmum lainnya, namun setelah imam salam orang yang masbuk menambah jumlah rakaat yang tertinggal. Jika berhasil mulai dengan mendapatkan ruku' bersama imam walaupun sebentar maka masbuk mendapatkan satu raka'at. Jika masbuk adalah makmum pertama, maka masbuk menepuk pundak imam untuk mengajak sholat berjama'ah[23].

6. Makmum Masbuq
Makmum masbuq adalah seorang makmum yang ketinggalan dalam sholat berjama’ah karena imam sudah melakukan sholat.Adapun cara mengerjar ketertinggalan yaitu:
a.    Apabila makmum ketinggalan, sedangkan ia masih dapat mengejar ketika imam membaca surat Al Fatihah maka hendaklah makmum tersebut menyempurnakan fatihahnya, hingga ia mendapat satu rokaat.
b.    Apabila makmum ketinggalan pada waktu imam selesai ruku’ pada rakaat pertama , maka telah ketinggalan satu rakaat. Oleh karena itu ia harus menggantinya pada waktu imam selesai salam.
c.    Apabila makmum ketinggalan pada waktu imam sedang ruku’ maka dia tidak di anggap ketinggalan satu rakaat.
d.   Apabila makmum ketinggalan sedangkan imam telah lewat dari ruku’ misalnya sedang dalam keadaan sujud, tahiyat awal dan sebagainya, maka maka harus menyempurnakan sesuai dengan jumlah rakaat yang di tinggalnya[24].

D. Sholat Bagi Orang Sakit
Orang yang sedang sakit wajib pula mengerjakan sholat, selama akal dan ingatanya masih sadar.
  1. Kalau tidak dapat berdiri, boleh mengerjakan sambil duduk,
    1. Cara mengerjakan ruku’nya ialah dengan membungkuk sedikit.
    2. Cara  mengerjakan sujudnya seperti mengerjakan sujud biasa.
  1. Kalau tidak dapat duduk ,boleh mengerjakanya dengan cara dua belah kakinya di arahkan ke arah kiblat, kepalanya di tinggikan dengan alas bantal dan mukanya di arahkan ke kiblat.
    1. Cara mengerjakan ruku’nya cukup menggerakkan kepala ke depan
    2. Ssujudnya menggerakan kepala lebih ke muka dan lebih di tundukkan.
  1. Jika duduk seperti biasa dan berbaring juga tidak dapat, maka boleh berbaring dengan seluruh anggota badan di hadapkan kiblat. Ruku’ dan sujudnya cukup menggerakkan kepala, menurut kemampuanya.
  2. Jika tidak dapat mengerjakan dengan cara berbaring seperti tersebut di atas, maka cukup dengan isyarat, baik dengan kepala maupun dengan mata. Dan jka semuanya tidak bisa, maka boleh di kerjakan dalam hati, selama akal dan jiwanya masih normal[25].

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.    adzan berasal dari bahasa arab “adhanun” yang berarti pemberitahuan. Sedangkan pengertian adzan menurut istilah adalah seruan pemberitahuan tentang datangnya waktu shalat fardhu, dengaan mempergunakan lafadh yang telah di tentukan oleh syara’.Sedangkan Iqamah menurut bahasa arab ”iqomatan” yang mempunyai arti menunaikan, mendirikan dan menegakkan. Sedangang pengertian iqomah menurut istilah adalah suatu tanda bahwa shalat akan di mulai, dengan mempergunakan lafadh yang telah di tentukan oleh syara’
2.    Sholat fardhu adalah sholat yang wajib dan harus di kerjakan oleh setiap orang mu’min pada waktu yang telah di tentukan.Adapun sholat yang di fardhukan (di wajibkan) itu ada lima yaitu: Isyak, subuh, dhuhur, asar, dan magrib.Mula-mula turunya perintah wajib shalat itu ialah pada malam isra’, setahun sebelum tahun hijriah.
3.    Sholat berjama’ah adalah sholat yang di kerjakan secara bersama-sama, di katakan sholat berjama’ah apabila lebih dari satu orang, yang satu  berdiri di depan sebagai imam dan yang lain berjajar di belakang  di belakangnya sebagai makmum
Orang yang sedang sakit wajib pula mengerjakan sholat, selama akal dan ingatanya masih sadar.


[1] Mz, Labib. 2005. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Gali Ilmu, hlm.46
[2] Ibid, hlm.49
[3] Rifa’I, Moh. 2005. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang: Toha Putra, hlm.27
[4] Mz, Labib. 2005. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Gali Ilmu, hlm.47
[5] Ahnan, Maftuh. 2002. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Bintang Usaha Jaya,hlm.46
[6] Ibid, hlm.48
[7] Labib Mz. 1992. Risalah Sholat Lengkap. Surabaya: Tiga Dua. hlm 37
[8] Ahnan, Maftuh. 2002. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Bintang Usaha Jaya,hlm.48
[9] Ibid.
[10] Ibid, hlm.50
[11] Rifa’I, Moh. 2005. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang:Toha Putra,hlm.31
[12] Sunarto, Achmad. 1991. Terjemah Fat-Hul Qarib. Surabaya: Al- Hidayah,hlm.112
[13] Rasjid, Sulaiman. 2007. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo, hlm.53
[14] Labib Mz. 1992. Risalah Sholat Lengkap. Surabaya: Tiga Dua. hlm 33
[15] Ibid,hlm.74
[16] Rifa’I, Moh. 2005. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang:Toha Putra,hlm.34
[17] Ahnan, Maftuh. 2002. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Bintang Usaha Jaya,hlm.96
[18] Asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al- Maliban. Terjemah Fat-Hul Mu,in. Surabaya: Al Hidayah,hlm.377
[19] Mz, Labib. 2005. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Gali Ilmu, hlm.137
[20] Ibid.
[21] Ibid,hlm.138
[22] Ahnan, Maftuh. 2002. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Bintang Usaha Jaya,hlm.98
[24] Mz, Labib. 2005. Risalah Shalat Lengkap. Surabaya: Gali Ilmu, hlm.139
[25] Rifa’I, Moh. 2005. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang: Toha Putra, hlm.72


Bacaan yang Mungkin Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar