Rabu, 06 Februari 2013

Kondisi Bangsa Arab Pra Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
          Ketika Nabi Muhammad SAW lahir (570 M). mekah adalah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri  Arab. Baik karena tradisinya maupun  karena  letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan yaman diselatan dan siria di utara.dengan adanya kabah ditengah kota. Mekah menjadi pusat keagamaan arab. Kabah adalah tempat mereka berziarah. Didalamnya terdapat 360 berhala. Mengelilingi berhala utama. Hubal.mekah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah arab dengan luas satu juta mil persegi.
          Biasanya dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa arab sebelum islam,orang membatasi pembicaraan hanya pada jazirah arab. Padahal bangsa arab juga mendiami daerah-daerah disekitar jazirah. Jazirah arab memang merupakan kediaman mayoritas bangsa arab kala itu.
          Dunia arab ketika itu merupakan kancah peperangan terus menerus . pada sisi yang lain meskipun masyarakat badui mempunyai pemimpin namun merreka hanya tunduk kepada syeikh atau amir(ketua kabilah)itu dalam hal yang berkaitan dengan peperangan, pembagian harta rampasan dan pertempuran tertentu. Diluar itu ,syeikh atau amir tidak kuasa mengatur anggota kabilahnya.
          Akibat peperangan yang terus menerus ,kebudayaan mereka tidak berkembang. Oleh Karen itu kami mencoba membuat makalah ini, yang membahsa mengenai bangsa Arab.

BAB II
            Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang. Karena itu, peperangan antar suku sering sekali terjadi.
            Begitulah gambaran secara ringkas kelas masyarakat bangsawan. Sedangkan kelas masyarakat lainnya beraneka ragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan wanita.  Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah ada empat macam :
1.    Pernikahan secara spontan. Seorang laki-laki mengajukan lamaran kepada laki-laki lain yang menjadi wali wanita, lalu bisa menikahinya setelah menyerahkan seketika itu pula.
2.    Seorang laki-laki bisa berkata kepada istrinya yang baru suci dari haid, “temuilah Fulan dan berkumpullah dengannya!” suaminnya tidak mengumpulinnya dan sama sekali tidak menyentuhnya, hingga ada kejelasan bahwa istrinya hamil dari orang yang disuruh mengumpulinnya, maka suami bisa mengambil kembali istrinya jika jika memang ia menghendaki hal itu. Yang demikian ini dilakukan, karena dia menghendaki kelahiran seorang anak yang baik dan pintar. Pernikahan semacam ini disebut nikah istibdha’.
3.    Pernikahan poliandri, yaitu pernikahan beberapa orang laki-laki yang jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang, yang semuanya mengumpuli seorang wanita.setelah wanita itu hamil dan melahirkan bayinya, maka selang beberapa hari kemudian dia mengundang semua laki-laki yang berkumpul dengannya, dan mereka tidak bisa menolaknya hingga berkumpul dihadapannya.dia menunjuk salah satu dari mereka untuk merawat bayinya.
4.    Sekian banyak laki-laki bisa mendatangi wanita yang dikehendakinnya, yang juga disebut wanita pelacur. Biasannya mereka memasang bendera khusus di depan pintunya, sebagai tannda bagi laki-laki yang ingin mmengumpulinya. Jika jika wanita pelacur ini hamil dan melahirkan anak, dia bisa mengundang semua laki-laki yang pernah mengumpulinnya. Setelah semua berkumpul, diadakanlah undian. Siapa yang mendapat undian, maka dia bisa mengambil anak itu dan mengakuinnya sebagai anaknya. Dia tidak bisa menolak hal itu.

Berikut ini adalah contoh beberapa tradisi buruk masyarakat Arab Jahiliyah.
1.        Perjudian atau maisir. Ini merupakan kebiasaan penduduk di daerah perkotaan di Jazirah Arab, seperti Mekkah, Thaif, Shan’a, Hijr, Yatsrib, dan Dumat al Jandal.
2.        Minum arak (khamr) dan berfoya-foya. Meminum arak ini menjadi tradisi di kalangan saudagar, orang-orang kaya, para pembesar, penyair, dan sastrawan di daerah perkotaan.
3.        Nikah Istibdha’, yaitu jika istri telah suci dari haidnya, sang suami mencarikan untuknya lelaki dari kalangan terkemuka, keturunan baik, dan berkedudukan tinggi untuk menggaulinya.
4.        Mengubur anak perempuan hidup-hidup jika seorang suami mengetahui bahwa anak yang lahir adalah perempuan. Karena mereka takut terkena aib karena memiliki anak perempuan.
5.        Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan mereka alami.
6.        Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang memujinya.
7.        Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik, atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung.
7.        Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik, atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung.
8.        Prostitusi. Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah pelacur.
9.        Fanatisme kabilah atau kaum.
10.    Berperang dan saling bermusuhan untuk merampas dan menjarah harta benda dari kaum lainnya. Kabilah yang kuat akan menguasai kabilah yang lemah untuk merampas harta benda mereka.
11.    Orang-orang yang merdeka lebih memilih berdagang, menunggang kuda, berperang, bersyair, dan saling menyombongkan keturunan dan harta. Sedang budak-budak mereka diperintah untuk bekerja yang lebih keras dan sulit.
            Banyak kebiasaan yang dilakukan bangsa jahiliyah, salah satunya adalah berepoligami,tanpa ada batasan maksimal berapa yang dikehendaki . bahkan mereka bisa menikahi dua wanita yang bersaudara. Mereka juga bisa menikahi janda ayahnya, entah karena dicerai atau ditinggal mati. hak perceraian ada ditangan laki-laki,tanpa ada batasanya.
            Banyak persaingan dalam masalah kehormatan dan perebutan pengaruh kekuasaan lebih sering menyelimut peperangan antar kabilah yang sebenarnya berasal dari satu ayah dan ibu, seperti yang kita lihat antara aus dan khazraj, abs dan dzubyan, bakr dan taghlib serta lain-lainnya.
            Secara garis besarnya kondisi social mereka bisa dikatakan lemah dan buta, kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, kurafat tidak bisa dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang, wanita diperjual belikan dan kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati. Hubungan ditengah umat sangat rapuh dan gudang-gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekuasaan yang berasal dari rakyat, atau sesekali rakyat diperlakukan  untuk menghadang serangan musuh.

B.  Kondisi Ekonomi
            Kondisi ekonomi mengikuti  kondisi social yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kehidupan hidup.  Jalur-jalur perdagangan tidak dapat dikuasai begitu saja kecuali jika sanggup mengendali keamanan dan perdamaian. Sementara kondisi yang aman sementara ini tidak terwujud di jazirah arab kecuali pada bulan-bulan suci. Pada saat itulah dibuka pasar-pasar arab yang terkenal, seperti ukazh Dzi-majaz, majinnah dan lain-lain.
            Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badui, kehidupan social ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sector pertanian terutama mereka yang mendiami daerah subur di sekisar Oase. Akan tetapi bagi masyarakat Arab perkotaan, kehidupan social ekonomi mereka sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam perdagangan. Oleh Karen itu, bangsa Arab Quraisy sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Mereka melakukan perjalanan dagang dua musim dalam setahun, yaitu ke Negara Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin.
            Di kota Mekah terdapat pusat perdagangan, yaitu pasar Ukaz, yang dubuka pada bulan-bulan tertentu, seperti Zulqo’dah, Zulhijjah dan Muharam. Disamping itu pada bulan-bulan tersebut juga bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji.
            Tentang perindustrian atau kerajinan mereka adalah bangsa yang paling tidak mengenalnya kebanyakan hasil kerajinan yang ada di arab berasal dari rakyat yaman, hirah dan pinggiran Syam. Sekalipun begitu ditengah jazirah ada pertanian dan penggembala hewan ternak, sedangkan wanita-wanita arab menangani pemintalan. Tetapi kekayaan-kekayaan yang dimiliki bisa mengundang pecahnya peperangan. Kemiskinan, kelaparan dan orang-orang yang telanjang merupakan pemandangan yang biasa ditengah masyarakat.
C.  Kondisi Ilmu pengetahuan
            Disamping itu, bangsa Arab sebelum islam juga telah mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini misalnya dapat dilihat dari berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat Arab pada waktu itu. Di antara ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan adalah astronomi, yang ditemukan oleh orang-orang Babilonia. Mereka Ini Pindah Ke Negeri Arab pada waktu  Negara mereka diserang oleh bangsa Persia. Dari mereka inilah bangsa Arab belajar banyak ilmu pengetahuan.
            Selain itu bangsa arab sebelum lahirnya agama islam telah mampu mengembangkan ilmu meteorology atau ilmu iklim, astrologi atau ilmu perbintangan. Pada awalnya ilmu ini dipergunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya suatu peristiwa, seperti perang, damai dan sebagagainya, yang didasarkan pada bintang-bintang. Ilmu tenung yang banyak disukai masyarakat Arab, berasal dari orang-orang Kaldam yang bermigrasi ke tanah Arab. Disamping itu masyarakat Arab sebelum Islam juga telah memiliki pengetahuan tentang cara pengobatan penyakit, yang disebut AL Thahib. Ilmu ini juga berasal dari orang-orang Kaldam yang kemudian diambil dan dikembangkan oleh masyarakat Arab.

D.  Kondisi Akhlak
            Memang kita tidak memungkiri bahwa ditengah kehidupan orang-orang jahiliyah banyak terdapat hal-hal hina,amoralitas dan masalah-masalah yang tidak bisa diterima akal sehat dan tidak disukai manusia. Tapi meskipun begitu mereka masih memiliki akhlak-akhlak yang terpuji, mengundang kekaguman manusia dan simpati. Diantara akhlak-akhlak itu adalah:
1.    Kedermawanan
            Mereka saling berlomba-lomba membanggakan diri dalam masalah kedermawanan dan kemurahan hati. Bahkan separuh syair-syair mereka bisa dipenuhi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan ini. Adakalanya seseorang didatangi tamuyang kelaparan pada saat hawa dingin menggigit tulang, sementra saat itu dia tidak memiliki kekayaan apapun selain seekor onta yang menjadi penopang hidupnya. Namun rasa kedermawanan bisa menggetarkan dirinya, lalu diapun bangkit menghampiri onta satu-satunya dan menyembelihnya, agar dia bisa menjamu tamunya.  Pengaruh dari kedermawanan ini, mereka bisa menanggung pembayaran denda yang jumlahnya sangat tinggi dan membuat pujian dan membanggakan diri dihadapan orang lain dalam masalah ini, terutama dari kalangan para penguasa dan pemimpin.

2.    Memenuhi Janji
            Dimata mereka, janji sama dengan hutang yang harus dibayar. Bahkan mereka lebih suka membunuh anaknya sendidri dan membakar rumahnya dari pada meremehkan janji.  Kisah tentang Hani’ bin Mas’ud Asy-Ayaibany, As-Samau’al bin Aditiya dan Hajib bin Zararah udah cukup membuktikan hal ini.

3.    Kemuliaan  jiwa  dan keengganan  menerima kehinaan dan kelaliman
            Akibatnya, mereka bersikap berlebih-lebihan dalam masalah keberainan, sangat pecemburu dan cepat naik darah. Mereka tidak mau mendengar kata-kata menggambarkan  kehinaan dan suatu  keluhuran yang disitu adkemosrotan. Melainkan mereka bangkit menghunus pedang, lalu pecah peperangan yang berkepanjangan. Mereka tidak lagi mempedulikan kematian bisa menimpa diri sendiri karena hal itu.

4.    Pantang Mundur
            Jika mereka sudah menginginkan sesuatu yang disitu ada keluhuran dan kemuliaan, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghadang maupun mengalihkannya.

5.    Kelemahlembutan dan suka menolong orang lain
            Mereka biasa membuat sanjungan tentang hal ini. Hanya saja sifat ini kurang tampak karena mereka berlebih-lebihan dalam masalah keberanian dan mudah terseret terhadap peperangan.

6.    Kesederhanaan pola kehidupan badui
            Mereka tidak mau dilumuri warna-warni peradaban dan gemerlapnya. Hasilnya adalah kejujuran, dapat dipercaya, meninggalkan dusta dan penghianatan.

E.  Kondisi Bahasa dan Seni Sastra
            Sekalipun wilayahnya luas, berhauhan wilayahnya dan beragam suku-sukunya, bahasa tetap satu. Alat untuk saling memahami dan mempertemukan penduduk jazirah ini, baik yang menetap maupun yang nomaden, baik yang yang Qathaniyah maupun yang ‘Adnaniyah, adalah bahasa Arab dalam berbagai dialek dan wilayahnya, yang dituntut oleh watak dan filsafat bahasanya, dan dituntut oleh ciri local dan cuaca, ciri penyebaran dan perkumpulannya.        
            Dalam bidang bahasa dan seni sastra, orang-orang Arab pada masa pra islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka seorang penyair sangat dihormati. Tiap tahun di pasar Ukaz diadakan deklamasi sajak yang sangat luas.
            Khitabah sangat maju, dan inilah satu-satunya alat publisistik yang amat luas lapangannya. Disamping sebagai penyair, orang-orang arab jahiliyah juga sangat faasih berpidato dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Ahli pidato mendapat derajat tinggi seperti penyair.
            Salah satu kelaziman dalam masyarakat arab jahiliyah adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana untuk mendeklamasikan sajak, bertanding pidato, tukar menukar berita dan lain sebagainya.

F.   Kondisi Agama
            Sebagaimana telah kita ketahui bahwa dalam cerita para nabi, sudah  ada beberapa nabi yang diturunkan di negeri Arab, diantaranya Nabi Ibrahim as. Karena itu sejka awal, ajaran tauhid sudah tertanam di masyarakat Arab. Dan ajaran Ibrahim as lazim juga disebut ajaran agama hanif artinya yang benar dan lurus.
            Tetapi setelah berjalan berpuluh-puluh abad, diantaranya Nabi Ibrahim as, ajaran tersebut mengalami perubahan, diputarbalikkan, ditambah dan dikurangi oleh para pengikutnya yang tidak bertanggung jawab yang kemudian yang kemudian mencul berbagai ajaran dan meragukan dan akhirnya jatuh menjadi agama berhala. Pada masa jahiliyah orang Arab banyak yang menyembah berhala atau patung-patung yang mereka buat dari batu, kayu da nada juga dari logam.
            Bangsa Arab mulai menyembah berhala ketika ka’bah berada di bawah kekuasaan Juhrum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Lubayi dan keturunan Khuza’ah datang ke mekkah dan berhasil mengalahkan jurhum. Kemudin Amr bin Lubayi meletakkan sebuah berhala besar bernama HUBAL yang terbuat dari batu akik merah berbentuk patung orang, yang ditempatkan disisi Ka’bah. Kemudian ia menyeru kepada penduduk Hijaz supaya menyembah berhala itu.
            Sejak itulah bangsa Arab menyembah berhala. Ketika bangsa Quraisy berkuasa lagi di Hijaz, di sekeliling  Ka’bah sudah penuh dengan berhala yang berjumlah lebih dari 360 buah. Di samping banyak lagi berhala lainnya, diantaranya yang penting yaitu:
1.    Lata, tempatnya di Thaif
2.    Uzza, tempatnya di Hijaz, kedudukannya sesudah Hubal
3.    Manah,  tempatnya di kota Madinah
                        Dan masih banyak lagi berhala-berhala yang lainnya seperti: Asaf, Nailah, Wudd, Yaghuts, Suwa, Ya’ng, Nashr, Manah. Berhala-berhala ini bagi bangsa arab merupakan perantara kepada Tuhan. Sehingga hakikatnya bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah.
                        Bangsa Arab juga menganggap bahwa malaikatlah yang menghidupkan, mematikan, dan menguasai segala gerak kehidupan manusia, bahkan ada yang percaya bahwa malaikat adalah keturunan Tuhan, karena itulah mereka menyembah malaikat, mereka juga menganggap bahwa jin, roh, dan hantu adalah katurunan langsung dari malaikat dan Tuhan. Karena itu mereka mengadakan sesaji pada tempat-tempat yang dianggap tempat jin, ruh, dan hantu. Dan di sanalah orang-orang menyembahnya. Kecuali itu ada juga yang menyembah setan atau yang disebut ifrid.
                        Mereka menyembah bintang, bulan, matahari, karena mereka menganggap bahwa semua benda-benda alam tersebut mempunyai kekuasaan untuk menentukan aturan-aturan jalannya seluruh alam ini.
                        Pada masa sebelum islam, orang-orang arab banyak percaya pada tahayul, diantaranya tahayul mereka itu ialah:
1.    Di dalam setiap perut orang ada ular, perasaan lapar timbul karena ular menggigit usus manusia.
2.    Mereka biasa mengenakan cincin dari tembaga atau besi, dengan keyakinan untuk menambah kekuatan.
3.    Bila mengharap turun hujan, mereka mengikat rumput kering pada ekor kambing.

G.  Asal Mula bangsa Arab
Adapun beberapa suku yang tinggal di jazirah arab,[6] yaitu :
1. Arab Ba’idah
            Yaitu bangsa arab yang telah musnah yaitu, orang-orang arab yang telah lenyap jejaknya. Jejak mereka tidak dapat diketahui kecuali hanya terdapat dalam catatan kitab-kitab suci. Arab Ba'idah ini termaksud suku bangsa arab yang dulu pernah mendiami Mesopotamia akan tetapi, karena serangan raja namrud dan kaum yang berkuasa di Babylonia, sampai Mesopotamia selatan pada tahun 2000 SM suku bangsa ini berpencar dan berpisah ke berbagai daerah, di antara kabilah mereka yang termaksud adalah: 'Aad, Tsamud, Ghasan, Jad.

2. Arab Aribah
            Yaitu cikal bakal dari rumpun bangsa Arab yang ada sekarang ini. Mereka berasal dari keturunan Qhattan yang menetap di tepian sungai Eufrat kemudian pindah ke Yaman. Suku bangsa arab yang terkenal adalah: Kahlan dan Himyar. Kerajaan yang terkenal adalah kerajaan Saba' yang berdiri abad ke-8 SM dan kerajaan Himyar berdiri abad ke-2 SM.
3. Arab Musta'ribah
            Yaitu menjadi arab atau peranakan disebut demikian karena waktu Jurhum dari suku bangsa Qathan mendiami Mekkah, mereka tinggal bersama nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar. Nabi Ismail yang bukan keturunan Arab, mengawini wanita suku Jurhum. Arab Musta'ribah sering juga disebut Bani Ismail bin Ibrahim ismail (Adnaniyyun).
            Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam Subras Mediteranian yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabiyah dan Irania. Bangsa arab hidup berpindah-pindah, nomad, karena tanahnya terdiri atas gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lainnya mengikuti tumbuhnya stepa (padang rumput) yang tumbuh secara sporadic di tanah arab di sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Bila dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: Qathaniyun (keturunan Qathan) dan ‘Adaniyun (keturuan Ismail ibnu Ibrahim as).

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.    Bangsa Arab sebelum datangnya islam mempunyai kebudayaan yang baik dan buruk yang telah ada ketika bangsa arab mengalami masa kegelapan.
2.    Kebudayaan yang buruk terutama dalam segi Akhlak dan agama, mereke menyembah berhala, sering melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah diantaranya minum-minuman keras, berjudi, membunuh anak perempuan yang baru lahir, merendahkan harkat martabat wanita. Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan mereka alami. Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang memujinya. Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik, atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung. Prostitusi. Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah pelacur. Fanatisme kabilah atau kaum dan masih banyak lagi.
3.    Tapi dari semua keburukan tersebut masih ada hal yang baik dari bangsa Arab pada saat itu diantaranya: juga berkembangasa ilmu pengetahuan dalam bidang astronomi atau perbintangan, dalam bidang dagang, dan adanya kebiasaan masyarakat yang melekat yaitu rasa solidaritas diantara sesame klan atau suku, dermawan, pantang mundur jika menhadapi sesuatu dan lain-lain.


Bacaan yang Mungkin Terkait:

1 komentar: