Rabu, 12 Juni 2013

Karakteristik Pembelajaran Tematik

A.    Karakteristik Anak Usia Dini
Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orang tualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalannya. Dalam lima tahun pertama yang disebut dengan The Golden Years, seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Di masa masa inilah, anak seyogyanya mulai diarahkan Sebagai orang tua yang proaktif, orang tua hendaknya memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan anak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal.
       Pendidikan anak usia dini (fase prasekolah) merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke beberapa arah diantaranya pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, sosioemosional, kepribadian, moral dan kesadaran beragama. Perkembangan merupakan perubahan ke arah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Usia lahir sampai dengan pra sekolah merupakan masa keemasan sekaligus dengan masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya, masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, sosial, emosional, moral dan nilai-nilai agama, kognitif dan seni.

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral dan sebagainya. Masa kanak-kanak juga masa yang paling penting untuk hidupnya, sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan pondasi dan masa kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya. Sedemikian pentingnya usia tersebut maka memahami karakteristik anak usia dini menjadi mutlak dan melalui pendidikan di kelas awal perkembangan dirinya dapat dilakukan secara optimal
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

B.     Cara Anak Belajar
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. 
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:

1.      Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.  Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

2.      Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.

3.      Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.

C.    Belajar dan Pembelajaran  Bermakna
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak    jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningfull learning)  merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.  Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

D.    Karakterisitik Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang holistic, sehingga pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berfikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik. Atas dasar pemikirian di atas pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas 1, 2 dan 3 lebih jelas jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik.
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

1.         Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

2.      Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

3.      Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

4.      Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

5.      Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan, dalam proses pembelajaran tematik tidak menjemukkan /membosankan bahkan dalam suasana bermain yang menyenangkan mereka dapat memperoleh pengetahuan baru yang sangat utuh dan bermakna.

Adapun identik dengan butir-butir tersebut diatas ,menurut depdikbud (1996) karakteristik pembelajaran tematik tersebut adalah meliputi  holistik, bermakna, autentik, dan aktif:
Pertama. Holistik, suatu gejala yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa bidang kajian sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkontak-kontak ,sehingga memungkinkan siswa-siswi untuk memahami suatu gejala /fenomena dari segala sisi. Hal ini sebagai modal yang sangat baik untuk menjadi  lebih bijak menyikapi setiap yang dia hadapi atau alami.
Kedua. Bermakna, memungkinkan terbentuknya suatu jalinan antar konsep yang saling berhubungan atau disebut juga skemata , sehingga dapat menambah kebermaknaan materi yang dipelajari.
Ketiga. Autentik, siswa-siswi mempelajari suatu konsep danprinsip melalui kejadian langsung yang dilaksanakan dalam proses kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan eksperimen . guru lebih berperan sebagai fasilitator dan siswa-siswi sebagai aktor langsung dalam kegiatan tersebut untuk mencari dan memperoleh informasi dan pengetahuan.
Keempat. Aktif, pembelajaran lebih menekankan pada aktifitas siswa-siswi secara fisik, mental, intelektual, dan emosional melalui tema tertentu yang sesuai dengan hasrat, minat, dan kemampuanya, sehingga ia termotivasi untuk terus menerus belajar .

E.     Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik mempunyai karakteristik terpusat pada siswa-siswi, memeberikan pengalaman langsung , pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran, bersifat fleksibel (luwes), hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa-siswi, menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Dari karakteristik tersebut, pembelajaran tematik mempunyai keunggulan dan kelemahan.
Beberapa kelemahan dan keunggulan pembelajaran tematik dibandingkan model pembelajaran konvensional. Adapung Keunggulannya sebagaimana yang di sampaikan Saud, (2006) antara lain:
1.      Mendorong guru untuk mengembangkan kreatifitas, sehingga guru ditunutut untuk memiliki wawasan, pemahaman, dan kreatifitas tinggi karena adanya tuntutan untuk memahami keterkaitan antara satu pokok bahasan (subtansi) dengan pokok bahasan lain dari berbagai mata pelajaran. Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan kemampuan analitik, dan kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau kesamaan material maupun metodologik suatu pokok bahasan.
2.      Memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan keinginan dan kemampuan guru maupun kebutuhan dan kesiapan siswa-siswi. dalam kaitan ini, pembelajaran terpadu memberikan peluang terjadinya pengembagan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tema atau pokok bahasan yang disampaikan.
3.      Mempermudah dan memotivasi siswa-siswi untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antar konsep, pengetahuan, nilai, dan tindakan yang terdapat dalam beberapa pokok bahasan atau bidang stadi .dengan menggunakan model pembelajaran terpadu, serta psikologik, siswa-siswi digiring berfikir luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan-hubungan konsep pembelajaran tematik yang disajikan oleh guru. selanjutnya siswa-siswi akan terbiasa berfikir terarah ,teratur, utuh dan menyeluruh,sistematik, dan, analitik.
4.      Menghemat waktu, tenaga, dan sarana serta biaya pembelajaran, disamping menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal tersebut terjadi karena proses pemaduan atau penyatuan sejumlah unsur  tujuan, materi maupun langkah pembelajaran yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan.


Pembelajaran tematik memiliki beberapa kelemahan yaitu:
1            Dilihat dari aspek  guru, model ini menuntut tersedianya peran guru yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, kreativitas tinggi, ketrampilan metodologik yang handal, kepercayaan diri dan etos akademik yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Akibat akademiknya, guru dituntut untuk menggali informasi atau pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang diajarkan, salah satu srateginya harus membaca literatur (buku) secara mendalam. tanpa adanya seperti di atas, model pembelajaran tematik sulit diwujudkan.
2            Dilihat dari aspek siswa-siswi, pembelajaran tematik termasuk memiliki peluang untuk pengembangan kreatifitas akademik, yang menuntut kemampuan belajar siswa-siswi yang relatif “baik”, baik dari aspek intelegensi maupun kreatifitasnya. hal tersebut terjadi karena model ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitik (menjiwai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), dan kemampuan eksploratif dan eloboratif (menemukan dan menggali ). bila kondisi diatas tidak termiliki maka sangat sulit pembelajaran model diterapkan .
3            Dilihat dari aspek sarana dan sumber pembelajaran , pembelajaran tematik memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan berguna, seperti yang dapat menunjang dan memperkaya serta memper mudah mengembangkan wawasan dan pengetahuan yang diperlukan. dengan demikian jika pembelajaran tematik ini hendak dikembangkan maka perpustakaan perlu dikembangkan pula secara bersamaan. bila keaadaan yang dituntut tersebut tidak dapat terpenuhi agak sulit menerapkan pembelajaran tematik .
4            Dilihat dari aspek kurikulum, pembelajaran tematik memerlukan jenis kuri kulum yang terbuka untuk pengembangannya. Kurikulum harus bersifat luwes, dalam arti kurikulum yang beroriensi pada pencapaian pemahaman siswa-siswi terhadap materi(bukan berorientasi pada penyampaiantwrget materi), kurikulum yang memberikan kewenangan sepenuhnya pada guru untuk pengembanganya baik dalam materi, metode, maupun penilaian dan pengukuran keberhasilan pembelajaranya.
5            Dilihat dari sistem penilaian dan pengukurannya, pembelajaran tematik tersebut membutuhkan system penelitian dan pengukuran (objek, indicator, dan prosedur) yang terpadu dalam arti sistem yang berusaha menetapkan keberhasilan belajar siswa-siswi  dilihat dari mata pelajaran yang terkait, atau dengan kata lain, hasil belajar siswa- siswi merupakan kumpulan dan panduan penguasaan dari berbagai materi yang disatukan /digabung dalam kaitan ini guru disamping dituntut mampu menyediakan tknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang terpadu, juga ditunutut melakukan kordinasi dengan guru lain bila ternyata materi tersebut diajarkan dalam beberapa mata pelajaran oleh guru yang berbeda . ketiadaan system evaluasi dan pengukuran seperti itu ,kemungkinan sekali penilaian tidak bisa dilakukan secara absah dan trpercaya sesuai dengan tuntutan tujuan yang ditetapkan .
6            Dilihat dari segi suasanadan penekanan proses pembelajaran , pembelajaran tematik berkecenderungan mengakibatkan “tenggelamnya” pengutamaan salah atu ataulebih mata pelajaran. dengan kata lain, ketika seorang guru mengajarkan sebuah tema atau pokok bahasan, maka guru tersebut berkecenderungan lebih mengutamakan, menekankan , atau mengintensifkan subtansi gabungan tersebut sesuai pemahaman, selera dan subjektifitas guru itu sendiri . secara kurikuler, akan terjadi pendominasian terhadap materi tertentu, serta sebaliknya sekaligus terjadinya proses pengabaian terhadap materi tertentu, serta sebaliknya sekaligus terjadi proses pengabaian terhadap materi /mata pelajaran lain yang dipadukan.



Bacaan yang Mungkin Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar