Selasa, 10 Juli 2012

Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi Untuk Progam Pendidikan dan Penelitian

Di negara-negara yang sudah maju yang sudah maju, pendidikan dipandang sebagai sarana utama untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Untuk beberapa masalah tertentu, kesejahteraan bangsa dibebankan ke pundak sekolah dan universitas.

Diakui bahwa kritik-kritik sering muncul tentang sistem pendidikan yang sering berubah dan tidak seimbang, kurikulum yang kurang tepatdengan mata pelajaran yang terlalu banyak dan tidak berfokus pada hal-hal yang seharusnya diberikan, dan lain sebagainya. Namun masalah yang paling parah pada setiap sistem pendidikan yaitu kurangnya evaluasi yang efektif. Sering terjadinya perubahan dalam sistem pendidikan mungkin terutama disebabkan oleh :
1)  Kurangnya informasi yang dapat diandalkan tendang hasil pendidikan, tentang praktek, dan progamnya.
2)  Kurangnya suatu sistem   yang standar untuk memperoleh informasi tersebut dalam butir satu.

Kesadaran akan hal tersebut merupakan salah satu langkah ke arah perbaikan, evaluasi dapat memberikan pendekatan yang lebih banyak lagi dalam memberikan informasi kepada pendidikan untuk membantu perbaikan dan pengembangan sistem pendidikan. Oleh sebab itu, orang-orang yang berpengaruh dalam pendidikan, pakar-pakar pendidikan, dan para pemimpin menyokong dan menyetujui bahwa progam pendidikan harus dievaluasi. Para orang tua yang mengerti menginginkan informasi tentang kurikulum dan metode pengajaran yang digunakan untuk mengajar anaknya. Kelompok warga lainnya igin mengetahui hasil yang dicapai dengan biaya yang telah mereka bayar. Karena evaluasi dapat membantu mengadakan informasi tersebut, maka para pembuat aturan pendidikan dapat memakai hasil evaluasi untuk alasan dalam proses perbaikan pendidikan. Pakar maupun pemimpin sekolah dan universitas menerima evaluasi sebagai persyaratan untuk memperoleh dana guna bemacam-macam progam pendidikan. Pengajar dan karyawan melihat evaluasi untuk mengetahui apa yang telah mereka kerjakan. Singkatnya evaluasi telah diterima secara luas dalam pendidikan dan bidang-bidang lainnya yang relevan.

Dibedakan adanya evaluasi yang formal dan informal. Evaluasi informal terjadi apabila seseorang memilih antara beberapa pilihan dan secara informal memilih. Misalnya, memilih menu direstoran, seseorang menanyakan menu kepada pelayan restoran apa saja yang sedang populer hari itu untuk makan malam. Evaluasi informal semacam itu, pilihan amat subjektif tergantung pada persepsi si pemilih tentang pilihan terbaik. Buku ini tidak membicarakan evaluasi semacam itu, tetapi evaluasi formal dan pendekatan evaluasi yang sistematik dalam merumuskan kriteria untuk memperoleh informasi yang akurat tentang pilihan-pilihan itu.

A. Peranan dan Tujuan Evaluasi
Evaluasi formal telah memegang peranan penting dalam pendidikan (Worten, Blaine R, dan James R, Sanders, 1987) antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1.  Membuat kebijaksanaan dan keputusan
2.  Menilai hasil yang dicapai para pelajar
3.  Menilai kurikulum
4.  Memberi kepercayan kepada sekolah
5.  Memonitor dana yang telah diberikan
6.  Meperbaiki materi dan progam pendidikan

B. Definisi Evaluasi
Biasanya evaluasi pendidikan selalu dihubangkandengan hasil belajar, namun saat ini konsep evaluasi mempunyai arti yang lebih luas daripada itu. Setiap orang tampaknya mempunyai maksud yang berbeda apabila sampai kepada kata evaluasi.Untuk mengetahui lebihjauh apa yang dimaksud seseorangdengan evaluasi, kita harusmengetahui beberapa hal. Ada sepuluh pertanyaan yang harus dijawab untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan evaluasi (Robert O. Brinkerhoff & Cs., 1983).

1. Apa Arti Evaluasi ?
Banyak definisi evaluasi dapat diperoleh dari buku-buku yang ditulis oleh ahlinya, antara lain devinisi yang ditulis oleh Ralph Tyler, yaitu evaluasi ialah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai (Tyler, 1950, hlm. 69). Menyediakan informasi untuk pembuat keputusan, dikemukakan oleh Cronbach [1963], Stufflebeam (1971), juga Alkin (1969). Maclclom, Provus, pencetus Discrepanciy Evaluation (1971), mendefinsikan evaluasi sebagai perbedaan apayang adadangan suatu standar untuk mwngetahui apakah adaselisih. Akhir-akhir ini telah dicapai sejjumlah konsensus antara evaluator tentang arti evaluasi, antara lainyaitu penilaian atas manfaat atau guna (Scriven, 1967); Glas 1969; Stufflebeam 1974). Komite untuk standar evaluasi yang terdiri atas 17 anggota yang mewakili 12 organisasi sehubungan dengan evaluasi sebagai berikut, Evaluasi ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa objek (joint committee, 1981).

Kelompok Konsorsium Evaluasi Standford menolak devinisi evaluasi yang menghakimi (judgmental devinition of evaluation). Karena menurut mereka bukanlah tugas evaluator menentukan apakah suatu progam berguna atau tidak. Evaluator tidak dapat bertindak sebagai wasit terhadap orang lain. Maka definisi yang tidak menghakimi (nonjudgmental definition of evaluation) tampaknya lebih dapat diterima.

2. Untuk Apa Evaluasi?
Scriven [1967] orang pertama yang membedakan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif sebagai fungsi evaluasi yang utama. Kemudian Stufflebeam juga membedakan sesuai diatas yaitu Practive evaluation untuk melayani pemegang keputusan, dan Retroactive evaluation untuk keperluan pertanggung jawaban. Evaluasi dapat mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi formatif, evaluasi dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (progam, orang, produk, dan sebagainya). Fungsi sumatif, evaluasi dipakai untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan. Jadi evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu progam, perbaikan progam, pertanggung jawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.

3. Apa Objek Evaluasi ?
Hampir semua unit trainiting dapat dijadikan objek suatu evaluasi. Siswa atau mahasiswa sudah merupakan objek yang populer bagi evaluasi pendidikan. Yang lain-lainnya seperti proyek atau progam institusi  pendidikan yang sekarang menjadi objek evaluasi yang semakin populer. Penting sekali menentukan dan mengetahui apa yang akan dievaluasi. Hal ini akan menolong menentukan apa infoamasi yang dikumpulkan dan bagaimana menganalisisnya. Hal ini akan membantu pemfokusan evaluasi. Rumusan tujuan yang jelas juga akan menghindari salah tafsir dan kesalah pahaman.

4. Aspek dan Dimensi Objek Apa yang Akan Dievaluasi ?
Setelah memilih objek yang akan dievaluasi, maka harus ditentukan aspek-aspek apa saja dari objek tersebut yang akan dievaluasi. Masa lalu evaluasi berfokus kebanyakan atas hasil yang dicapai, jadi untuk mengevaluasi objek pendidikan misalnya lokakarya, berarti mengevaluasi hasil lokakarya yaitu hasil yang telah dicapai peserta. Akhir-akhir ini, usaha evaluasi ditujukan untuk memperluas atau memperbanyak variabel evaluasi dalam bermacam-macam model evaluasi (Stake, 1967; Stufflebeam, 1959, 1974; Alkin 1969; Provus, 1971). model CIPP dari Stufflebeam mengemukakan evaluasi yang berfokus pada empat aspek yaitu :
1)  Konteks
2)  Input
3)  Proses implementasi
4)  Produk

Karena pendekatan ini maka evaluasi lengkap terhadap evaluasi pendidikan akan menilai misalnya : a) manfaat tujuannya, b) mutu rencana, c) sampai sejauh mana tujuan dijalankan, dan d) mutu hasilnya. Jadi evaluasi hendaknya berfokus pada tujuan dan kebutuhan, desain training, implementasi, dan hasil training.

5. Kriteria Apa yang Dipakai untuk Menilai Suatu Objek ?
Memilih kriteria yang akan dipakai untuk menilai objek evaluasi merupakan tugas yang paling sulit dalam evaluasi pendidikan. Apabila yang diacu hanya pencapaian tujuan, maka ini memang pekerjaan yang mudah, namun ini baru sebagian daripada isu kriteria evaluasi. Pencapaian tujuan-tujuan yang penting memang merupakan salah satu kriteria yang penting. Kriteria lainnya yaitu identifikasi kebutuhan dari klien yang potensial, nilai-nilai sosiaal, mutu, dan efisiensi dibandingkan dengan objek-objek alternatif lainnya. Tampaknya ada persetujuan di antara ahli evaluasi bahwa kriteria yang dipakai untuk menilai suatu objek tertentu hendaknya ditentukan dalam konteks objek tertentu dan fungsi evaluasinya. Jadi hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan kriteria penilaian suatu objek ialah:
1)  Kebutuhan, ideal, dan nilai-nilai
2)  Penggunaan yang optimal dari sumber-sumber dan kesempatan
3)  Ketepatan efektifitas training
4)  Pencapaian tujuan yang telah dirumuskan dan tujuan penting lainnya. Kriteria yang ganda (multiple) hendaknya sering dipakai

6. Siapa yan Harus Dilanyani oleh Evaluasi?
Supaya evaluasi betul-betul bermanfaat atau berguna, maka evaluasi itu harus berguna untuk klien atau audiensi khusus. Kebanyakan literatur evaluasi tidak menyarankan siapa audiensi yang tepat. Namun ada tiga hal yang diusulkan penulis sehubungan dengan tulisan ini, yaitu :
1)  Evaluasi dapat mempunyai lebih dari seorang audiens
2)  Masing-masing audiensi mungkin punya kebutuhan yang berbeda
3)  Audiensi khusus kebutuhannya harus dirumuskan dengan jelas pada waktu memulai rencana evaluasi
7. Apa Langkah-langkah dan Prosedur yang Dilakukan dalam Evaluasi ?
Proses melakukan evaluasi mungkin saja berbeda sesuai persepsi teori yang dianut, ada bermacam-macam cara. Namun evaluasi harus memasukkan ketentuan dan tindakan sejalan dengan fungsi evaluasi yaitu :
1)  Memfokuskan evaluasi
2)  Mendesain evaluasi
3)  Mengumpulkan informasi
4)  Menganalisis informasi
5)  Melaporkan hasil evaluasi
6)  Mengelola evaluasi
7)  Mengevaluasi evaluasi

8. Metode Apa yang Akan Digunakan dalam Evaluasi
Kiranya pendekatan eclectic (memilih berbagai metode dari beberapa pilihan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan) merupakan cara yang terbaik. Pendekatan yang dipilih hendaknya sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Provus (1971) dan Stufflebeam (1971) memperkenalkan beberapa variasi metode dalam evaluasi, di samping desain eksperimen dan kuasi eksperimen yang tradisional (Cambell dan Stanley, 1963), dengan metode Nateralistic (Guba dan Lincoln, 1981; Patton, 1980), Jury trials (Wolf, 1975) dengan analisis sistem, dan banyak lainnya merupakan metode yang sudah lazim dipakai dalam evaluasi progam.

9. Siapa yang Akan Melakukan Evaluasi ?
Untuk menjadi kelompok profesional evaluator dituntut mempunyai ciri-ciri tertentu yang memerlukan latihanyang memadai. Untuk menjadi seorang evaluator yang kompeten dan dapat diandalkan ia harus mempunyai kombinasi berbagai ciri, antara lain : mengetahui dan mengerti teknik pengukuran, dan metode penelitian, mengerti tentang kondisi sosial, dan hakikat objek evaluasi, mempunyai kemampuan human relation, jujur, serta bertanggung jawab. Karena sulit mencari orang yang mempunyai begitu banyak kemampuan, maka sering evaluasi dilakukan oleh suatu tim.

10. Apa Standar untuk menilai Evaluasi ?
Akhir-akhir ini telah dicoba pengembangan standar untuk kegiatan evaluasi pendidikan. Standar yang paling komprehensif dan rinci dikembangkan oleh Committee on Standard for educational Evaluation (Joint Committee, 1981) dengan ketentuannya Daniel Stufflebeam, yaitu :
a)  Utility (bermanfaat dan praktis)
b)  Accuracy (sacara teknik tepat)
c)  Feasibility (realistik dan teliti)
d)  Proppriety (dilakukan dengan legal dan etik)

C. Beberapa Istilah
Program ialah segala sesuatu yang dicoba lakukan seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh (Joan L. Herman & Cs, 1987, Evaluator's Handbook).

Sponsor, biasanya suatu evaluasi ada sponsornya. Sponsor ialah orang atau organisasi yang meminta evaluasi dan membayar untuk itu,

Audiensi, evaluasi selalu mempunyai bermacam-macam audiensi (peminat, pemakai, pelanggan), audiensi yaitu orang yang secara langsung atau tidak langsung berurusan dengan evaluasi.

Instrumen, instrumen termasuk tes, kuesioner, observasi, interviu atau wawancara, laporan, ceklis, dan alat-alat ukur lainnya.

Client, dalam tulisan ini ditulis klien yaitu audiensi yang lebih khusus, orang atau organisasi yang memesan atau meminta kepada evaluator untuk melakukan evaluasi.

Kuantitatif dan Kualitatif. Perbedaan ini dibuat sehubungan dengan macam informasi yang dikumpulkan dalam suatu evaluasi.

Data Kualitatif akan berupa atau berbentuk kata-kata, seperti karangan tentang kejadian, transkip wawancara, dan dokumen tertulis.

Data Kuantitatif, data berupa angka-angka, analis data kuantitatif berpendapat, kalau data ada, ia akan berupa jumlah dan dapat diukur.


Bacaan yang Mungkin Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar